Tapi jika dilihat, hatinya hilang. Seperti berlubang. Tetapi sesak oleh benda-benda asing yang aku sendiri tak yakin apa itu.
Dua bulan ini rasanya seperti mimpi. Mimpi indah yang pada akhirnya menyakitkan.
Lelaki itu datang. Memberiku cahaya penerangan ketika aku merasa duniaku sudah gelap.
Ia membuatku ternganga karena tiba-tiba ia datang seakan memberiku cahaya itu. Bukan hanya menyinari, tapi memberiku cahayanya.
Ia membuatku jatuh cinta padanya, lagi. Memberiku hari-hari yang indah, ketika hari-hariku sebelumnya 'tlah datar tak berwarna.
Ia membuatku menjadi sosok yang slalu ingin berusaha menjadi lebih baik. Aku pun berusaha lebih baik.
Namun mimpi itu menjadi buruk, ketika setelah 1 bulan hubungan kami berjalan. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Entah sebenarnya apa yang salah. Ia tiba-tiba meminta menjauh, meminta hubungan kami berakhir sampai di situ saja. Ia meminta cahayanya kembali, ketika aku sudah benar-benar mencintainya.
Aku bahkan tak peduli dunia membisikkan kata-kata buruk tentangnya, aku tetap mencintainya. Iapun tetap ingin mengambil cahaya itu, dariku.
Aku sadar kebahagiaan dalam cinta itu tak harus memiliki. Ah, so dramatic. But hell yeah, I have to do that. mau dipaksa seperti apapun, ia tetap menginginkan cahayanya kembali.
Aku memberikannya, mengembalikannya.
Dan ya, kini hariku gelap kembali. Cahaya itu menjauh dengan pasti. Hilang ditelan gelap.
Aku masih di sini, berdiri diam, memandang cahaya yang mulai redup itu pergi.
Aku masih di sini, berdiri diam mematung, seakan tak percaya apakah tadi itu benar-benar nyata, ataukah memang mimpi.
Jika memang mimpi, aku tak yakin itu adalah mimpi indah, ataukah mimpi buruk.
Dua bulan yang singkat, namun hatiku 'tlah benar-benar dibawa olehnya. Hilang seluruhnya karena 'tlah dicuri olehnya.
Senyumku entah bagaimana caranya, aku bisa mengeluarkannya meski rasanya hambar.
Aku sendiri tak yakin apakah senyum itu benar-benar keluar, atau hanya ilusi, atau entah bagaimana.
Tapi, terima kasih padanya, ia 'tlah meminjamiku cahaya meski sekejap saja.
Terima kasih padanya, karena pada akhirnya aku memahami, bahwa tiap apa yang aku cintai, tak selamanya indah bagiku.
Terima kasih padanya, karena 'tlah menorehkan luka yang manis. Manis sekali sehingga aku bahkan masih bisa merasakan manisnya hingga kini.
Mas manis, entah seberapa bodoh yang dunia umpatkan padaku, tapi aku (yang entah bagaimana bisa) masih mencintaimu.
---------------------------------------------
Aaaaahh, drama is soooo dramatic. hahaha!!!
0 comments:
Post a Comment