Thursday, July 18, 2013

Kaki-kaki ini masih berdiri di sini menunggumu

Posted by Mei Poe at 6:33 PM
Seorang sahabat menasehatiku, "perlahan tinggalkan"... Mungkin ya, mungkin tidak.
Aku tak mampu lagi berdiri tegap menunggunya sibuk sendiri tanpaku. Aku tak kuat menahan terpaan dinginnya angin yang menghantamku hingga merobohkanku perlahan dengan rasa sakitnya.
Aku demam, terkena terpaan angin malam ketika menunggunya berhari-hari. Ia hanya datang sesekali untuk say Hi, but that's all, he back to his super duper busy routine.
Aku tau dia sibuk, tapi bahkan dia tidak mengenal diriku. I beg that. Dia mungkin bahkan lebih memahami orang lain daripada aku, yang merupakan pacarnya.
Dia mungkin juga tidak perlu repot-repot penasaran siapa diriku. Bagaimana diriku yang sebenarnya...

Aku merasa kaki-kaki ini bergetar, terasa goyah. Ingin jatuh, tapi aku masih ingin berdiri di sini, menunggunya.
Aku memaksakan kaki-kaki ini untuk berdiri kokoh, tapi aku tau kaki-kaki ini rasanya ingin menjatuhkan badanku.
Tidak! Aku akan terus berdiri, meski aku harus menahan rasa sakit, meski aku harus menangis untuk menahannya, hingga sampai akhirnya aku jatuh tak sadarkan diri, barulah nanti aku akan menyerah.
Aku tidak kuat, aku ingin menyerah, tapi aku harus tetap bertahan. Aku ingin waktulah yang menjatuhkanku, bukan semangatku.


Dear sayang, mungkin sekali waktu aku bisa meledak, tapi ketahuilah, kaki-kakiku masih akan kokoh berdiri di sini untuk menunggumu tetap berada di sisiku.
Aku tidak akan mungkin meninggalkanmu ketika aku masih mencintaimu seperti ini, aku tidak akan mungkin pergi selama semangat dan keyakinanku ini masih tetap ada.
Aku mungkin juga tidak akan pergi begitu saja pergi meninggalkan ini semua meski kelak semangatku mulai redup.
Selama kaki-kaki ini masih kuat kupaksakan berdiri, aku akan tetap berdiri di sini, menunggumu, sembari berharap hatimu akan luluh untuk membuatmu menolehkan wajahmu ke arahku.

Orang akan menertawakan aku, tapi aku tak peduli, selama kaki-kakiku masih kokoh menyanggaku, aku tak akan peduli apa kata orang. Fokusku pada satu titik akan tetap di situ. Punggungmu ketika kamu berjalan menjauhiku.
Melihatmu berjalan menjauhpun aku masih bisa kokoh berdiri, melihatmu akrab dengan kawan-kawanmu dan kamu tersenyum, aku melihatmu dengan tersenyum dari jauh.
Aku tidak peduli sebagaimana menyakitkannya itu semua, tapi aku masih di sini. Masih berharap kamu akan menoleh padaku.


Aku masih ingin meyakininya. Kamu, masih yang tersayang saat ini.


"I see myself as a crayon, I may not be your favorite color, but I know someday, you will need me to complete your picture."

0 comments:

Post a Comment

 

Putrie's Diary Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos